Aplikasi Hotel
WHAT'S NEW?
Loading...

SYEKH MAHFUDH AL-TARMASI AL-JAWI bag.1

 Syekh Mahfudh Al-Tarmasi diakui sebagai ulama Jawa terkemuka, alumnus Pesantren Tremas, Pacitan, yang banyak mengarang kitab penting dan mengajar di Masjid Al-Haram Mekkah pada paruh akhir abad-19. (Pesantren, 2003; Azra, 1999).
Syekh Mahfudh dilahirkan di Desa Tremas pada tahun 1285 H. atau bertepatan dengan tahun 1842 M.
(Azra, 1999), dengan nama Muhammad Mahfudh. Ada pun nama lengkapnya idalah Abu Muhammad, Muhammad Mahfudh Al-Tarmasi ibn ‘Abd Allah ibn 'Abd Al-Manan ibn Demang Dipomenggolo I. Dan kelak di dunia Islam, ia dikenal dengan nama “Syekh Mahfudh Al-Tarmasi Al-Jawi.” Ayah kakeknya, yaitu Demang Dipomenggolo I masih keturunan seorang punggawa Keraton Surakarta yang bernama Ketok Jenggot.(Ma'murin, 1984).
Ketok Jenggot adalah orang pertama yang membuka hutan di daerah Pacitan yang akhirnya diberi nama Tremas. Desa Tremas terletak di Kelurahan Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Karesidenan Madiun, Propinsi Jawa Timur. Sedangkan Kota Pacitan adalah sebuah kota di Tepi Pantai Selatan, dan merupakan Kota yang terletak paling Selatan dari seluruh Kota Kabupaten yang ada di Pulau Jawa.
Ada pun ihwal penamaan Tremas, menurut Kiai Hasyim Ikhsan, seorang tokoh masyarakat Tremas, bahwa ketika Ketok Jenggot membuka hutan di Pacitan, ia menemukan sebuah “patrem” (bhs. Jawa), yaitu sebuah senjata mirip sebilah keris, dan “patrem” itu terbuat dari “emas,” akhirnya daerah itu diberi nama “Tremas” yang merupakan kependekan dari “patrem-emas.” Nama Tremas akhirnya terkenal sampai saat ini. (Ma'murin, 1984). Jadi kata “Al- Tarmasi” adalah nisbat pada Daerah Tremas, tempat di mana Syekh Mahfudh dilahirkan dan menuntut ilmu pertama kalinya sebelum pergi dan menetap di Mekkah.Boleh dikata, bahwa Mahfudh Al- Tarmasi adalah keturunan ulama yang bangsawan. Demang Dipomenggolo I, adalah seorang bangsawan terpandang di Daerah Pacitan yang sangat agamis. Pada saat Pacitan diperintah oleh seorang Bupati yang gemar menyi’arkan Islam bernama Mas Tumengungg Jayakarya I, di Desa Semanten, Ki Demang Dipomenggolo I mendirikan sebuah pesantren yang ia asuh sendiri. Dengan sendirinya, Demang Dipomenggolo menjadi cukup terkenal, disegani sekaligus dihormarti oleh semua lapisan masyarakat Pacitan. Untuk memberikan contoh pada masyarakat, ia mulai dari keluarganya sendiri. Putranya yang bernama Mas Bagus Sudarso ia kirim untuk menggali ilmu agama ke Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo, sebuah pesantren yang sangat terkenal pada saat itu.

Sepulang dari pesantren Tegalsari, Mas Bagus Sudarso dikenal oleh masyarakat dengan nama Kiai ‘Abd Al- Manan. Kiai muda ini, ikut aktif mengembangkan Pesantren Semanten Pacitan. Pada saat itu, Desa Tremas diperintah oleh Demang Ngabei Honggowijoyo yang punya hubungan dekat dengan Demang Dipomenggolo. Kebetulan ke duanya masih keturunan Ketok Jenggot. Rupanya Demang Ngabei Honggowijoyo tertarik dengan Kiai Muda ‘Abd Al-Manan, putra Demang Dipomenggolo. Ia lalu menikahkan puterinya dengan Kiai ‘Abd Al-Manan dan membuatkan sebuah pesantren baru di Tremas. Pesantren itu berdiri pada tahun 1830 M., pada saat-saat perang Diponegoro mulai surut, dan Kiai ‘Abd Al-Mananadalah pengasuhnya yang pertama.

Dari pernikahan Kiai ‘Abd Al-Manan dengan Puteri Demang Ngabei Honggowijoyo, terlahirlah ‘Abd Allah. Demi menyiapkan kader yang mumpuni ‘Abd Allah dikirim untuk belajar ke berbagai pesantren di Jawa Timur dan ke Tanah Hijaz. Akhirnya, tatkala Kia ‘Abd Al-Manan meninggal pada tahun 1962 M., Kiai ‘Abd Allah ibn ‘Abd Al- Manan menggantikannya sebagi: pengasuh Pesantren Tremas.

Jadi, Mahfudh Al-Tirmasi lahir tatkala usia Pesantren Tremas berumur 12 tahun. Sejak kecil ia hidup dalam keluarga pesantren yang cinta ilmu dar rajin ibadah. Ia sempat belajar ilmu agama pada kakeknya. Namun secara dalam ia lebih banyak belajar padi ayahnya sendiri, Kiai ‘Abd Allah iba ‘Abd Al-Manan. Pada ayahnya ia belajar Ilmu Tauhid, Al-Qur’an dan Ilmu Ai- Qur’an, juga belajar Ilmu Fiqih. Di tangan ayahnya ini, ia mendapapat gemblengan yang cukup berat dengar sistem sorogan (sistem individual). Dimana seorang murid membaca Al- Qur’an atau Kitab Kuning langsung di hadapan gurunya. Dan gurunya akan memperhatikannya dengan seksama sehingga akan ketahuan kadar kemampuannya. Sistem sorogan merupakan bagian paling sulit dari seluruh sistem pendidikan Islam tradisional, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan disiplin pribadi dari murid (Dhofier. 1994). Kitab-kitab klasik yang ia pelajar, secara sorogan dari ayahnya antara lain: Syarh Al-Ghayah li Ibn Qasim Al- Ghazi, Minhaj Al-Qawim, Fath Al- Mu'in, Syarh Syarqawi‘alaAl-Hakim dan Tafsir Al-Jalalain.

0 komentar:

Post a Comment