Setelah cukup lama belajar pada ayahnya, ia melanjutkan ke Semarang untuk belajar pada Syekh Muhammad shaleh ibn ‘Umar Al-Samarani, ulama arrkemuka Jawa Tengah abad-19 yang dikenal dengan sebutan “Kiai Shaleh Darat.” Dengan gurunya ini, Mahfudh Al-Tarmasi mengkhatamkan beberapa kitab (Ma'murin, 1984), antara lain: Tafsir Al-Jalalain (khatam dua kali), Syarah Syarqawi‘ala Al-Hakim, Wasilat At- Thullab, dan Syarh Al-Maridini fi Al-Falak.
Kemudian, pada saat Pesantren Tremas dipegang Kiai ‘Abd Allah ibn Abd Al-Manan, perkembangannya semakin pesat. Murid-muridnya terus berdatangan dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Kharisma Kiai ‘Abd Allah yang selain pernah belajar di beberapa pesantren di Jawa juga pernah belajar di. Tanah Suci Mekkah. pesantren Tremas mulai dikenal dengan ilmu Gramatika Arab-nya (Dhofier,1994). Melihat perkembangan ini, Kiai Abd Allah merasa perlu mempersiapkan pengganti yang lebih haik dari dirinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengirim ke dua putranya Muhammd Mahfudh dan adiknya, Dimyathi ke Mekkah untuk mernuntut ilmu dan memperdalam ilmu agamanya. Pengirimn ini terjadi pada tahun 1872 M. saat umur Mahfudh Al- Tsrmasi genap 30 tahun.
Kemudian, pada saat Pesantren Tremas dipegang Kiai ‘Abd Allah ibn Abd Al-Manan, perkembangannya semakin pesat. Murid-muridnya terus berdatangan dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Kharisma Kiai ‘Abd Allah yang selain pernah belajar di beberapa pesantren di Jawa juga pernah belajar di. Tanah Suci Mekkah. pesantren Tremas mulai dikenal dengan ilmu Gramatika Arab-nya (Dhofier,1994). Melihat perkembangan ini, Kiai Abd Allah merasa perlu mempersiapkan pengganti yang lebih haik dari dirinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengirim ke dua putranya Muhammd Mahfudh dan adiknya, Dimyathi ke Mekkah untuk mernuntut ilmu dan memperdalam ilmu agamanya. Pengirimn ini terjadi pada tahun 1872 M. saat umur Mahfudh Al- Tsrmasi genap 30 tahun.
Bagai mendapatkan durian runtuh, keinginan Kiai ‘Abd Allah disambut dengan gembira oleh Mahfudh Al- Tarmasi. Sebab ia memang bercita-cita untuk bisa selalu dekat dengan Rasul Allah atau Bait Allah. Ia bercita-cita ingin wafat di Mekkah atau di Madinah (Ma'murin, 1984). Begitu menginjakkan Tanah Haramain, ia langsung berniat untuk tinggal di sana sampai akhir hayat.
Bersama adiknya (Dimyathi), ia mulai menimba ilmu pada ulama terkemuka di Mekkah dan Madinah. Ada pun ulama-ulama yang menjadi guru besarnya antara lain; yang pertama, Syekh Ahmad Al-Minsyawi. Pada ulama ahli qira’ah sab'ah ini, ia belajar tartil Al-Qur’an menurut qira’ah Imam ‘Ashim. Juga mengkhatamkan dua kitab yaitu, Al-Qur’an Qira'atu 'Ashim fi Riwayati Khalaf bima Tayassara min Al-Tajwid dan Syarh Al- ’Allamah Ibn Al-Qasih ‘ala Al- Sathibiyyah.
Kedua, Syeikh ‘Amr ibn Barkat Al- Syami. Pada ulama besar asli Syam yang juga murid dari Syekh Ibrahim Al-Bajuri ini, Syekh Mahfudh Al-Tarmasi belajar Syarh Syadzuru'. Ketiga, Syekh Musthafa ibn Muhammad ibn Sulaiman Al-’Afifi. Dengan ulama yang terkenal dengan ilmu Gramatika Arab dan ilmu Ushul Fiqihnya ini, Mahfudh Al- Tarmasi mengkhatamkan dua kitab, yaitu: Syarh Makhqiq Al-Mahla 'ala J awami' Al-Jawami', dan MughniAl- Lubab.
Kedua, Syeikh ‘Amr ibn Barkat Al- Syami. Pada ulama besar asli Syam yang juga murid dari Syekh Ibrahim Al-Bajuri ini, Syekh Mahfudh Al-Tarmasi belajar Syarh Syadzuru'. Ketiga, Syekh Musthafa ibn Muhammad ibn Sulaiman Al-’Afifi. Dengan ulama yang terkenal dengan ilmu Gramatika Arab dan ilmu Ushul Fiqihnya ini, Mahfudh Al- Tarmasi mengkhatamkan dua kitab, yaitu: Syarh Makhqiq Al-Mahla 'ala J awami' Al-Jawami', dan MughniAl- Lubab.
Keempat, Al-Imam Al-Hasib wa Al- Wari‘ Al-Nasib Al-Sayyid Husein ibn Muhammad ibn Al-Husein Al-Habsyi. Pada ulama ahli hadits yang juga sangat terkenal zuhud dan wira’inya ini, Mahfudh Al-Tarmasi mengkhatamkan dua kitab haditst utama yaitu: ShahihAl- Bukhari dan Shahih Al-Muslim. Kelima, Syekh Sa’ad ibn Muhammad Bafasil Al-Hadrami. Pada ulama pakar ilmu fiqih ini, yang juga menjabat sebagai Mufti Syafi'iyyah Kota Mekkah pada saat itu, Mafudh Al-Tarmasi belajar dua kitab: Syarh ‘UqudAl-Yaman dan Syifa‘un li Al-Qadhi‘iyadh.
Keenam, Syekh Muhammad Al- Sarbini Al-Dimyathi. Pada ulama pakar fiqih dan qira'ah yang berasal dari kota Dimyath, Mesir dan bermukim di Mekkah ini, Syekh Mahfudh Al- Tarmasi mengkhatamkan beberapa kitab, antara lain: Syarh Ibn Al-Qasis ‘ala Al-Syathibiyyah, Syarh Al-Dhurar Al- Mudhi‘ah, Tibyan Al-Nasyri fi Al- Qira’ah Al-’Asyri, Raudh Al-Nadzir li Al-Mutawalli, ItkbafAl-BasarifiQira’at Al- Qur'an Al-Arba‘ata Asyar li ibn Battak, Al-’Iddah li Al-Syathibiyyah, Tafsir Al- Baidhawi.
Ketujuh, Syekh Al-Jalil Sayyid Muhammad Amin ibn Ahmad Ridhwan Al- Daniyyi Al-Madani. Pada ulama terkemuka di Kota Madinah pada zamannya ini, Mahfudh Al-Tarmasi menghatamkan dan mengambil ijazah beberapa kitab, antara lain: Al-DalailAl- Khairat, Al-Ahzab, Al-Burdah, Al- Auliyat Al-Aljuni, Al-Mutawalli, Al- Muwatta‘li Al-Imam Malik ibn Anas.
Kedelapan, Syekh Sayyid Abu Bakar ibn Al-Sayyid Muhammad Satha’. Pada ulama yang mendapat julukan “Syekh Al-Masyayikh” atau “Guru besarnya para guru besar” ini, Syekh Mahfudh Al-Tarmasi belajar ilmu Syari’ah, ilmu Adab, ilmu Ushul, dan lain sebagainya.
Di tengah konsentrasinya dalam pengembaraan intelektual di Tanah Haramain, ia dan adiknya dipanggil ayahnya untuk pulang ke Jawa guna menggantikan posisinya sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Tremas.
Namun ia malah minta ijin pada ayahnya untuk bermukim di Mekkah dan mempersilahkan kepada adiknya, yaitu Kiai Dimyathi, untuk memenuhi panggilan tugas mulia menggantikan kedudukan ayahnya. Dan memang, kelak, setelah Kiai ‘Abd Allah meninggal, tampuk Pimpinan Pesantren Tremas dipegang Kiai Dimyathi.
Meski pun tidak terjun langsung membenahi Pesantren Tremas namun peran dan sumbangan pemikirannya untuk membesarkan dan mengembangkan Pesantren Tremas cukup besar. Perannya bahkan tidak sebatas pada pengembangan Pesantren Tremas semata, namun juga sebagian besar pesantren terkemuka di pulau Jawa. Sebab hampir semua ulama terkemuka pengasuh pesantren di plau Jawa awal abad-20, pernah belajar padanya.
Pada paruh akhir abad-19 ada beberapa ulama dari Indonesia yang kepakaran dan keilmuannya di bidang agama diakui dunia Islam. Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengajarkan ilmunya di Masjid Al- Haram. Setidaknya ada tujuh nama ulama terkemuka yang dikenal luas mereka adalah Syekh Mahfudh Al- Tarmasi (kelahiran Tremas, Pacitan) Syekh Nawawi Al-Bantani (kelahiran Banten), Syekh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi (kelahiran
Minangkabau), Syekh Mukhtarom (kelahiran Banyumas), Syekh Bakir (kelahiran Banyumas), Syekh Asy’ari (kelahiran Bawean) dan Syekh ‘Abd Al- Hamid (kelahiran Kudus).
Syekh Mahfudh, dan termasuk Syekh Nawawi dan ulama lainnya adalah para ulama jawa yang pada abad ke – 19 diakui kebesarannya di timur tengah.
0 komentar:
Post a Comment